Perkembangan Layanan Online Video dari YouTube Hingga Periscope

Dalam 10 tahun terakhir, kosakata “Online Video” bisa jadi sudah identik dengan YouTube. Bagaimana tidak, sejak debutnya di 2005, YouTube senantiasa berinovasi dan sangat memanjakan para kreator yang terlibat di dalam ekosistemnya. Saking banyak dan beragamnya konten yang berada di YouTube, hingga saat ini pun layanan berbagi video ini masih menempati posisi kedua untuk search engine yang paling banyak digunakan di dunia.

YouTube vs Vimeo + Vine

Vimeo dan Dailymotion, meskipun berada di posisi kedua dan ketiga, bila dibandingkan segi konten maupun audience-nya, masih sangat jauh tertinggal dari YouTube.

Namun perkembangan menakjubkan YouTube ini tidaklah diraih dengan mudah. Bahkan di artikel berikut ini terlihat bahwa meskipun faktor engagement dan kreator serta jumlah audience di YouTube tidak ada tandingannya, pendapatan yang mereka raih tidaklah istimewa.

Vimeo, kompetitor YouTube yang memiliki kelebihan dari segi kurasi konten, mencoba meraih revenue dengan menggunakan konsep freemium yaitu memberikan fasilitas lebih bagi para kreator konten yang membayar, untuk membedakan dari pengguna umum.

Sayang sekali, Bapak Menkominfo kita yang tersayang melakukan pemblokiran terhadap situs ini. Atas alasan mengandung konten pornografi. Hingga kapan pemblokiran ini akan berlaku? Mari kita berharap tidak selama-lamanya.

YouTube dan Vimeo, adalah dua contoh kisah sukses online video sites yang masing-masing mencoba merengkuh audience-nya dengan cara sendiri-sendiri selama 10 tahun belakangan. Belum terpikir, bagaimana cara mengalahkan mereka.

Hingga pada tahun 2012 kemarin, raksasa Social Media, Facebook, dan Twitter, mencoba peruntungan mereka dengan juga memasuki ranah online video. Facebook dengan membeli Instagram (yang kemudian ditambahkan fitur video setahun kemudian) dan Twitter, dengan membeli Vine.

Kemunculan dua layanan video baru ini menggemparkan dunia online video yang didominasi oleh video-video ‘properly made’ yang telah ada di YouTube maupun Vimeo. Bayangkan, video-video online yang biasanya berdurasi lebih dari 1 menit, kini didobrak oleh video-video berdurasi maksimal 6 dan 15 detik dengan kualitas konten video yang dihasilkan langsung dari smartphone.

vine vs instagram

vine vs instagram

Tentunya YouTube sebagai situs online video terbesar masih belum tergoyahkan dengan kehadiran dua microvideo app tersebut. YouTube memperkuat posisinya dengan memberikan creator analytic app yang hingga saat ini, menurut saya, masih merupakan point of sales utama yang dimiliki oleh YouTube kepada para kreator konten video di layanannya.

Melalui analytic app yang dimiliki oleh YouTube, setiap kreator dapat menganalisa konten-konten yang telah mereka hasilkan. Mulai dari tracking jumlah audience, lokasi, gender dan usia, hingga sampai breakdown popularitas detik per detik dari setiap video.

Untuk brand, bisa lebih banyak lagi fasilitasnya. Sehingga hal ini sukses membuat para brand tergiur untuk memiliki brand channel resmi di YouTube.

Dengan meningkatnya brand presence, YouTube mulai menayangkan pre-roll ads yang membuat para video-video yang dihasilkan oleh para brand dapat tayang sebelum video online diputar. Tentunya dengan targeted audience dan analytical tools yang juga mumpuni.

Di samping itu, YouTube juga terus melakukan inovasi dengan memberikan beragam kemudahan lain bagi para kreator seperti untuk melakukan “Live Feed”, akses ke ratusan musik dan sound effect library gratis.

Semua kelebihan YouTube di atas tentunya belum dimiliki oleh Instagram maupun Vine yang notabene memang mengetengahkan simplicity penggunaan dan memacu kreativitas penggunanya untuk menghasilkan video-video hebat terlepas dari keterbatasannya. Namun diam-diam ternyata Facebook memiliki rencana lain.

Facebook yang Mencuri Posisi

Sejak 2014 lalu, Facebook mulai memperbaiki feature video yang mereka miliki. Selain konsep autoplay yang mem-boost tingginya tingkat view video, serta memperkenalkan konsep targeted content yang secara otomatis menemukan audience yang tepat atas konten video yang kita buat. 

Facebook menyerang tepat ke sasaran satu-satunya kelemahan yang dimiliki YouTube. Seolah-olah berkata, “Susah kan nyari penonton di YouTube? Makanya bikin video di Facebook aja.”

Hingga menurut data di sini, pada akhir 2014 yang lalu, jumlah video post untuk brand yang dimiliki Facebook sudah menembus YouTube. Lalu apa yang dilakukan YouTube? Pada saat itu sih belum ada, namun ada satu video yang dibuat oleh kreator YouTube yang menerangkan mengapa hal itu dapat terjadi. Berikut videonya:

Hadirnya Vessel, Meerkat dan Periscope

Dengan semakin serunya perkembangan online content di jagad internet, konten video terasa semakin dekat dengan audience. Banyak audience yang mulai mencari konten-konten secara eksklusif, dan hal ini dimanfaatkan oleh Vessel, sebuah online video sites terbaru yang menawarkan para penonton untuk dapat menyaksikan konten sebuah channel dengan lebih cepat dibandingkan di YouTube channel, dengan sistem bayaran per bulan.

Langkah yang sama sekali berbeda, diambil oleh Meerkat. Sebuah aplikasi iOS yang rilis pada bulan Maret 2015 dan langsung melejit karena fokus layanan mereka adalah layanan “Live Video”. Meerkat bergantung pada platform Twitter, yang artinya setiap live streaming, respon, dan lain-lainnya akan secara otomatis muncul di timeline Twitter para penggunanya.

Sekilas hal ini cukup cerdas karena dengan demikian, Meerkat memastikan koneksi dari para penggunanya sadar saat seorang user Meerkat melakukan live streaming. Namun, apakah para pengguna Twitter nantinya akan merasa terganggu dengan aktivitas ini masih merupakan sesuatu yang perlu dijawab oleh Meerkat. 

Tidak lama setelah Meerkat diluncurkan, Twitter pun mengambil langkah yang tidak tanggung-tanggung, yaitu membeli aplikasi kompetitor Meerkat, Periscope. Aplikasi ini juga bermain di area yang sama, yaitu live video. Menurut laporan yang dituliskan TechCrunch ini, sejak akhir Maret 2015, jumlah pengguna Periscope sudah melebihi Meerkat.

 Screen Shot 2015-04-26 at 2.22.50 PM

Di luar aplikasi-aplikasi online video yang sempat dibahas di atas, masih ada layanan aplikasi online video lain yang memiliki fungsi berbeda-beda. TouchCast misalnya, yang fokus untuk meningkatkan level interaktif bagi para penggunanya. Atau 5by yang memberikan kurasi atas pilihan-pilihan tema video yang Anda gemari.

Hal ini menunjukkan bahwa, ada semakin banyak cara untuk menemukan audience, atau (sebaliknya, jika Anda berada di kursi audience), menemukan konten video yang menarik di internet.

Demikian cerita singkat tentang perkembangan online video dari yang paling populer sampai ke pendatang baru yang memberikan beragam keunikan dan keunggulan masing-masing.

Pidioo akan kembali lagi dengan beragam analisa tentang perkembangan konten video dan dunia online video diberbagai artikel lain. Stay tuned!

Sumber gambar 1: Meldotell, sumber gambar 2: Slideshare.. Gambar header: Pixabay.

Leave a comment

Your email address will not be published.

*